Rabu, 12 September 2018

Think Twice is Important

     Namaku Randy, Randy Ramadhani. Seorang pelajar yang memiliki sejuta kisah yang bisa dikatakan cukup asik, tetapi membuat masalah seringkali. Yap masalah pada saat itu, karena diriku ini adalah seorang pelajar pasti kalian semua mengerti apa masalahku, yaitu tentang kisah asmaraku pada masa lalu, yang teramat sangat mengganggu pikiranku. Harapanku hanya satu, yaitu bisa melupakan masalah ini yang kerap menggangu pikiranku.
     Aku sekarang duduk di bangku SMA kelas X jurusan IPA, bukan SMA biasa karena ini adalah salah satu SMA Favorit di daerahku ini. Aku akan menceritakan sedikit kisah tentang masa laluku ini.
     Dialah Intan, Intan adalah teman satu sekolahku yang memiliki rupa yang cukup membuat para lelaki jatuh kepadanya. Intan adalah anak yang sangat pandai di sekolahku ini, dia sering memenangkan berbagai lomba kejuaraan di bidang akademik, maupun non akademik. Lombanya pun tidak setingkat kota/ kabupaten, melainkan nasional bahkan sempat internasional, sangat handal dalam belajar dan juga melukis. Bagaimana para lelaki tidak tertarik kepadanya??
     Daya tarik Intan membuat banyak sekali lelaki yang mendekatinya, meskipun Intan menganggap mereka semua teman, tetapi tetap saja para lelaki tersebut menyatakan rasa yang ia pendam kepada Intan walaupun Intan selalu menolaknya. Aku adalah seseorang yang biasa saja dengan Intan, tidak ada rasa ketertarikan. Sama sekali tidak ada.
      Waktu berjalan, aku mempersiapkan diri untuk ujian. Aku pun menjalankan ujian tanpa adanya hambatan apapun karena semua yang di ujiankan adalah materi yang ku catat di buku catatan. Tidak lupa juga dengan jujur dan berdoa.  Akupun naik ke kelas XI, dan dii kelas XI ini, segalanya dimulai.
     Cerita ini dimulai disaat aku naik ke kelas XI, karena aku sekelas dengan Intan. Teman temanku menyoraki diriku, berkata “Beruntung sangat kau Ren, bisa sekelas sama primadona sekolah” namun aku membalas dengan tatapan malas karena bosan mendengarkan kata kata itu setiap hari, karena yaa memang aku tidak ada apa apa dengan Intan. Aku tidak tertarik dengannya.
     Pada saat sekolah, aku menjalani hari hariku dengan biasa saja seperti keseharianku pada saat kelas X yaitu belajar, mengerjakan tugas bersama dengan sahabat sahabatku, bermain game dan yang lain. Tanpa adanya sesuatu yang menggangguku.
     Namun suatu ketika, Intan memanggilku layaknya sudah seperti sahabatku sendiri. Ia menyapaku dengan nama panggilan yang biasa digunakan oleh sahabatku yaitu “Ren.” Karena orang yang baru pertama kali mengenalku memanggilku dengan sebutan “Rama.”
     Akupun menoleh, melirik Intan dan bertanya “Ada apa?” dan dia menjawab “Kita sekelas, tapi kita belum kenalan.” Akupun akhirnya berkenalan dengannya, dan aku bertanya bagaimana cara dia mengetahui namaku. Tetapi dia hanya menjawab kalau dia sering melihat diriku saat kegiatan ekstrakurikuler.
     Hari demi hari, bulan demi bulan aku jalani di sekolah, Intan makin hari makin dekat denganku dengan beralasan ingin menjadi sahabatku. Namun aku meng-iyakannya saja, karena aku ini orangnya cukup cuek, kurang peduli tentang asmara. Kurang peduli bukan berarti aku tidak berpengalaman, aku juga berpengalaman jatuh cinta sebelumnya namun itu membuatku resah dan aku tidak ingin mengulanginya lagi, sehingga saat ini aku kurang peduli.
     Namun, Intan selalu ingin dekat denganku, melakukan aktivitas di sekolah bersama denganku, mengerjakan tugas denganku, dan bahkan bermain game bersamaku. Lama kelamaan, aku memiliki perasaan yang berbeda dengannya, seperti tidak lagi seorang sahabat. Aku merasa kalau kita lebih dari sahabat, aku pun tertarik dengan pesonanya Intan, keunggulannya dalam bidang akademik dan non akademik, dan juga perhatian yang diberikannya kepadaku membuatku makin tertarik dengannya.
     Dia menarikku ke dunianya, dia menunjukkan rasa ketertarikannya kepadaku sejak awal aku kenal dengannya. Tetapi diriku saja yang kurang peka dan memerhatikan gerak geriknya.
     Dia membuatku lupa akan masa laluku, membuat ku melupakan rasa sakit yang ku alami dulu. Dia membuatku melupakan resiko memiliki hubungan dengan seseorang. Namun aku juga telah terlarut dengan sikapnya sehari hari, yang makin hari makin perhatian denganku. Dia makin menunjukkan ketertarikannya padaku sehari hari.
     Tanpa berpikir panjang akan resiko yang bisa ku terima nantinya, akupun akhirnya memutuskan untuk memilikinya.
     Akupun menyatakan perasaan ku kepadanya, dan diapun menerima perasaanku dengan tulus. Aku sangat senang sekali bisa memiliki seorang pasangan yang multi-talented. Hari demi hari kita menjalaninya dengan penuh suka duka yang kami alami bersama sama tanpa terpisahkan.
     Namun, ujian tengah semester pun sudah dekat. Akupun menjalaninya dengan belajar bersama dengan Intan, mengerjakan latihan soal bersama sama. Tetapi pada saat ujian dimulai, aku justru terlarut memikirkannya yang seharusnya aku fokus pada ujian. Aku ingin menghilangkan pikiran ini, namun sama sekali tidak bisa. Seperti sudah terikat dengan hidupku, yang tidak dapat diubah lagi.
     Alhasil nilaiku pun menjadi menurun, dan nilainya pun juga menurun. Aku pun bertekad untuk tidak melanjutkan hubungan ini lagi, karena aku mengincar PTN yang ku inginkan, aku ingin nilai bagus.
     Tetapi, meninggalkannya itu susah bagiku. Aku sudah terlarut, tertarik di dalam dunianya sudah seperti tidak dapat keluar dari dunia itu. Setelah ujian ini, makin banyaak tugas yang diberikan oleh guru di sekolahku. Aku mengerjakannya sendiri, tanpa Intan karena aku ingin pekerjaan ini menjadi lebih cepat dan mendapatkan istirahat yang cukup.
     Namun Intan bersikeras untuk menelponku, padahal aku sudah menjelaskan bahwa aku ingin fokus belajar dan mengerjakan tugas. Tetapi tidak di dengarkan, malah makin menjadi. Ya akhirrnya akupun emosi dengannya, membuatku menyesal berhubungan dengan orang lagi. Akupun berpikir dan akhirnya aku memutuskan Intan, aku tidak lagi bersama dengannya.
     Intan terkejut mendengar aku tidak ingin dengannya lagi, namun aku sudah tidak peduli lagi. Dia sekarang di mataku hanyalah sebagai teman, tidak lebih. Dan aku pun meninggalkannya. Memang pasti para teman temanku berkata aku tiddak setia, aku laki laki yang mempermainkan hati seorang perempuan, aku laki laki yang tidak bersyukur, atau bla bla bla. Tetap saja aku tidak akan peduli satupun dengan kata kata mereka, karena aku yakin mereka yang berkata seperti itu belum memiliki pengalaman tersendiri, belum pernah merasakan bagaimana rasanya terikat oleh pasangan, suka dukanya memiliki pasangan.
     Semenjak aku tidak bersama Intan, nilaiku menjadi naik. Makin fokus dan sahabatku bertambah banyak, tanpa memandang gender. Dan Alhamdulillah, aku menjalani tes kenaikan kelas dengan lancar ditambah juga nilai bagus.
     Dan beban pikiranku juga menghilang, jadi lebih reda. Dan dari sini aku bertekad untuk tidak berpasangan dengan siapapun karena menurutku itu hanya mendatangkan masalah di saat yang akan datang nanti.
     Ada saat dimana kita harus mengontrol keinginan kita, kita harus bersabar. Memang terasa seperti sayang sekali, kapan lagi?? Namun tolong di kontrol dan bersabar, karena kita jika ingin melakukan sesuatu harus berpikir dua kali, terlebih lagi resiko yang akan kita hadapi kelaknya nanti.


Ingatlah, semuanya akan indah pada waktunya. Ada saatnya sendiri. Yang perlu kita lakukan hanyalah bersabar dan mendekatkan diri kita dengan Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendapat tentang ldks

LDKS(Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa), menurut saya ldks itu sangat membantu saya membangun dan melatih mental saya untuk kehidupan di masa...