Namaku Randy,
Randy Ramadhani. Seorang pelajar yang memiliki sejuta kisah yang bisa dikatakan
cukup asik, tetapi membuat masalah seringkali. Yap masalah pada saat itu,
karena diriku ini adalah seorang pelajar pasti kalian semua mengerti apa
masalahku, yaitu tentang kisah asmaraku pada masa lalu, yang teramat sangat
mengganggu pikiranku. Harapanku hanya satu, yaitu bisa melupakan masalah ini
yang kerap menggangu pikiranku.
Aku sekarang duduk
di bangku SMA kelas X jurusan IPA, bukan SMA biasa karena ini adalah salah satu
SMA Favorit di daerahku ini. Aku akan menceritakan sedikit kisah tentang masa
laluku ini.
Dialah Intan,
Intan adalah teman satu sekolahku yang memiliki rupa yang cukup membuat para
lelaki jatuh kepadanya. Intan adalah anak yang sangat pandai di sekolahku ini,
dia sering memenangkan berbagai lomba kejuaraan di bidang akademik, maupun non
akademik. Lombanya pun tidak setingkat kota/ kabupaten, melainkan nasional
bahkan sempat internasional, sangat handal dalam belajar dan juga melukis.
Bagaimana para lelaki tidak tertarik kepadanya??
Daya tarik Intan
membuat banyak sekali lelaki yang mendekatinya, meskipun Intan menganggap
mereka semua teman, tetapi tetap saja para lelaki tersebut menyatakan rasa yang
ia pendam kepada Intan walaupun Intan selalu menolaknya. Aku adalah seseorang
yang biasa saja dengan Intan, tidak ada rasa ketertarikan. Sama sekali tidak
ada.
Waktu berjalan,
aku mempersiapkan diri untuk ujian. Aku pun menjalankan ujian tanpa adanya
hambatan apapun karena semua yang di ujiankan adalah materi yang ku catat di
buku catatan. Tidak lupa juga dengan jujur dan berdoa. Akupun naik ke kelas XI, dan dii kelas XI
ini, segalanya dimulai.
Cerita ini dimulai
disaat aku naik ke kelas XI, karena aku sekelas dengan Intan. Teman temanku
menyoraki diriku, berkata “Beruntung sangat kau Ren, bisa sekelas sama
primadona sekolah” namun aku membalas dengan tatapan malas karena bosan
mendengarkan kata kata itu setiap hari, karena yaa memang aku tidak ada apa apa
dengan Intan. Aku tidak tertarik dengannya.
Pada saat sekolah,
aku menjalani hari hariku dengan biasa saja seperti keseharianku pada saat
kelas X yaitu belajar, mengerjakan tugas bersama dengan sahabat sahabatku,
bermain game dan yang lain. Tanpa adanya sesuatu yang menggangguku.
Namun suatu
ketika, Intan memanggilku layaknya sudah seperti sahabatku sendiri. Ia
menyapaku dengan nama panggilan yang biasa digunakan oleh sahabatku yaitu
“Ren.” Karena orang yang baru pertama kali mengenalku memanggilku dengan sebutan
“Rama.”
Akupun menoleh,
melirik Intan dan bertanya “Ada apa?” dan dia menjawab “Kita sekelas, tapi kita
belum kenalan.” Akupun akhirnya berkenalan dengannya, dan aku bertanya
bagaimana cara dia mengetahui namaku. Tetapi dia hanya menjawab kalau dia sering
melihat diriku saat kegiatan ekstrakurikuler.
Hari demi hari,
bulan demi bulan aku jalani di sekolah, Intan makin hari makin dekat denganku
dengan beralasan ingin menjadi sahabatku. Namun aku meng-iyakannya saja, karena aku ini orangnya cukup cuek, kurang peduli
tentang asmara. Kurang peduli bukan berarti aku tidak berpengalaman, aku juga
berpengalaman jatuh cinta sebelumnya namun itu membuatku resah dan aku tidak
ingin mengulanginya lagi, sehingga saat ini aku kurang peduli.
Namun, Intan selalu
ingin dekat denganku, melakukan aktivitas di sekolah bersama denganku,
mengerjakan tugas denganku, dan bahkan bermain game bersamaku. Lama kelamaan, aku memiliki perasaan yang berbeda
dengannya, seperti tidak lagi seorang sahabat. Aku merasa kalau kita lebih dari
sahabat, aku pun tertarik dengan pesonanya Intan, keunggulannya dalam bidang
akademik dan non akademik, dan juga perhatian yang diberikannya kepadaku
membuatku makin tertarik dengannya.
Dia menarikku ke
dunianya, dia menunjukkan rasa ketertarikannya kepadaku sejak awal aku kenal
dengannya. Tetapi diriku saja yang kurang peka dan memerhatikan gerak geriknya.
Dia membuatku lupa
akan masa laluku, membuat ku melupakan rasa sakit yang ku alami dulu. Dia
membuatku melupakan resiko memiliki hubungan dengan seseorang. Namun aku juga
telah terlarut dengan sikapnya sehari hari, yang makin hari makin perhatian
denganku. Dia makin menunjukkan ketertarikannya padaku sehari hari.
Tanpa berpikir
panjang akan resiko yang bisa ku terima nantinya, akupun akhirnya memutuskan
untuk memilikinya.
Akupun menyatakan
perasaan ku kepadanya, dan diapun menerima perasaanku dengan tulus. Aku sangat
senang sekali bisa memiliki seorang pasangan yang multi-talented. Hari demi hari kita menjalaninya dengan penuh suka
duka yang kami alami bersama sama tanpa terpisahkan.
Namun, ujian
tengah semester pun sudah dekat. Akupun menjalaninya dengan belajar bersama
dengan Intan, mengerjakan latihan soal bersama sama. Tetapi pada saat ujian
dimulai, aku justru terlarut memikirkannya yang seharusnya aku fokus pada
ujian. Aku ingin menghilangkan pikiran ini, namun sama sekali tidak bisa.
Seperti sudah terikat dengan hidupku, yang tidak dapat diubah lagi.
Alhasil nilaiku
pun menjadi menurun, dan nilainya pun juga menurun. Aku pun bertekad untuk
tidak melanjutkan hubungan ini lagi, karena aku mengincar PTN yang ku inginkan,
aku ingin nilai bagus.
Tetapi,
meninggalkannya itu susah bagiku. Aku sudah terlarut, tertarik di dalam
dunianya sudah seperti tidak dapat keluar dari dunia itu. Setelah ujian ini,
makin banyaak tugas yang diberikan oleh guru di sekolahku. Aku mengerjakannya
sendiri, tanpa Intan karena aku ingin pekerjaan ini menjadi lebih cepat dan
mendapatkan istirahat yang cukup.
Namun Intan
bersikeras untuk menelponku, padahal aku sudah menjelaskan bahwa aku ingin
fokus belajar dan mengerjakan tugas. Tetapi tidak di dengarkan, malah makin
menjadi. Ya akhirrnya akupun emosi dengannya, membuatku menyesal berhubungan
dengan orang lagi. Akupun berpikir dan akhirnya aku memutuskan Intan, aku tidak
lagi bersama dengannya.
Intan terkejut
mendengar aku tidak ingin dengannya lagi, namun aku sudah tidak peduli lagi.
Dia sekarang di mataku hanyalah sebagai teman, tidak lebih. Dan aku pun
meninggalkannya. Memang pasti para teman temanku berkata aku tiddak setia, aku
laki laki yang mempermainkan hati seorang perempuan, aku laki laki yang tidak
bersyukur, atau bla bla bla. Tetap saja aku tidak akan peduli satupun dengan
kata kata mereka, karena aku yakin mereka yang berkata seperti itu belum
memiliki pengalaman tersendiri, belum pernah merasakan bagaimana rasanya
terikat oleh pasangan, suka dukanya memiliki pasangan.
Semenjak aku tidak
bersama Intan, nilaiku menjadi naik. Makin fokus dan sahabatku bertambah banyak,
tanpa memandang gender. Dan Alhamdulillah, aku menjalani tes kenaikan kelas
dengan lancar ditambah juga nilai bagus.
Dan beban
pikiranku juga menghilang, jadi lebih reda. Dan dari sini aku bertekad untuk
tidak berpasangan dengan siapapun karena menurutku itu hanya mendatangkan
masalah di saat yang akan datang nanti.
Ada saat dimana
kita harus mengontrol keinginan kita, kita harus bersabar. Memang terasa
seperti sayang sekali, kapan lagi?? Namun tolong di kontrol dan bersabar,
karena kita jika ingin melakukan sesuatu harus berpikir dua kali, terlebih lagi
resiko yang akan kita hadapi kelaknya nanti.
Ingatlah, semuanya akan indah pada waktunya. Ada saatnya sendiri. Yang perlu kita lakukan hanyalah bersabar dan mendekatkan diri kita dengan Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar